belum revisi, bukan skripsi
Setelah sekian lama nggak nulis
blog, akhirnya balik lagi. Imho, dari jaman SMP sampai sekarang blog tetep jadi
andalan netizen buat nulis. Except nulis status sama caption sih.
Well, kali ini aku kayaknya bakalan
cerita aja, bukan nulis artikel yang berfaedah seperti bloger-bloger lain, dari
dulu emang nggak berfaedah sih tulisanku, hahaa. Isinya random thougts, yang
ujung-ujungnya suka geli kalau lagi baca ulang. Lebay banget dah, but i am sure
suatu saat entah 2 atau 3 tahun lagi ketika baca tulisan ini, aku bakal
ngarasin, “Ih lebah deh”, eh maksudnya, “lebay deh”. Hehe..
Sekarang jamannya tahun 2018,
jamannya ngurusin skripsi untuk anak keluaran 95-96. Ini konteksnya yang lagi
menempuh s1 yang nggak nunda kuliah setelah SMA ya. Ada juga yang diluar tahun
lahir segitu yang masih atau sudah mengerjakan skripsi? Tentu ada. Kalau aku,
alhamdulillah termasuk yang pertama yang aku sebutin tadi. Berarti, kalau
dihitung umur udah 20-an tahun. Ekspektasi umur segitu apa menurut kalian?
Nikah? Kerja? Seneng haha hihi? Buang ekspektasi berlebihan soal umur 20an.
Hidup bukan kaya sinetron anak kuliahan yang cinta-cintaan. Haha aku malah
ngrasain diumur segini awalanya manusia ngrasain yang bener-bener hidup yang
bakan nglewatin lika-liku kehidupan. Memang, ada juga sih beberapa
temen-temenku yang udah kerja. Banyak malah. Tapi aku yakin, mereka diluar sana
punya problemnya masing-masing, bebannya juga makin berat karena
tanggungjawabnya juga makin berat. But dont worry, semua pasti ada kebahagiaannya.
Karena, Allah memberi cobaan nggak mungkin diluar batas kemampuan hamba-Nya.
Insyaallah kalau sabar dan ikhlas kita akan metik nikmatnya hidup.
Nah balik ke soal skripsi, mungkin
bukan perkara mudah bagi sebagian orang. Nasib kita belajar dibangku kuliahan
beberapa semester, ditentuin di semester ini dengan membuat skripsi. Mahasiswa
ditutut proaktif nanya ini itu, googling, cari referensi, sering-sering baca,
belum lagi revisi belum lagi nggak ketemu advisor besoknya balik lagi ke
kampus, belum lagi masalah pribadi, eakk. Problematika seperti ini, kalau
mahasiswa nggak sabar dan ikhlas nggak bakalan selesai skripsian. Tapi
alhamdulillah, aku dapet advisor yang super baik bangeeeeett. Alhamdulillah.
Hari-hari disibukan dengan revisi.
Kadang ngerasa pengangguran karena emang nggak setiap hari ke kampus. Dulu
jamannya masih jadi mahasiswa aktif, hampir tiap hari ke kampus ikut mata
kuliah ini, mata kuliah itu, nongkrong ke kantin kampus, bisa jajan kesana
kesini, haha hihi-an sama temen-temen dengan topiknya nggak jauh-jauh ngeluhin
soal tugas yang seabrek. Semua itu masih bisa. Sekarang, aku ngrasain mahasiswa
akhir nggak bisa buat sesantai itu. Ini sih pendapatku ya. Karena pendapat
orang beda. Kata gitasav dibukunya “Rintang Kisah” bilang kalo wajar pendapat
setiap orang beda, karena kita nggak bisa maksain orang buat setuju sama
pendapat kita. Gimana ya, menurutku sih disemester ini mahasiswa bakalan diuji
tanggungjawabnya nggak cuma hasil skripsiannya. Kalau disemester awal mahasiswa
milih mata kuliah ikut kelasnya dosen sesuai jadwal. Nah, sekarang kalau
mahasiswa nggak aktif tanya dosen/advisor atau sekedar ke perpus cari
referensi, semua bakalan useless. Dosen apa mau tahu apakah semua mahasiswa
udah dapet topik penelitian? Beliau apa mau tahu mahasiswa kapan mau
penelitian? Trust me. Masa depan bener bener pada genggaman kita sendiri. Di
fase ini kita ditutut buat tanggungjawab, tanggungjawab ke kampus, ke advisor
yang membimbing kita, dan terlebih lagi sama orang tua yang keluar banyak
tenaga dan materi selama kita kuliah.
That’s why, beberapa mahasiswa yang
mengeluh tentang problematika skripsi sah-sah aja. Namun, jangan lantas
mengeluh terus dan melulu mengeluh. Yang mengeluhkan soal revisian. Hey.. belum
revisian namanya bukan skripsi, kawan. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan
revisi, masih diberi kesempatan benerin yang salah. Inget, quote, “Life is an
adventure”. Yang namanya adventure pasti aja jalan naik turun, kelokan, jalan
terjal, dan jalan bercabang. Jangan harap jalan hidup bakalan mulus-mulus aja.
Suatu saat bakal ada ujiannya sendiri. Sama kayak skripsi, ini ujian
kawan-kawan. Aku bilang kayak gini karena aku juga pasti pernah mengeluh. Yaela
jangankan soal skripsi, hal kecil aja kata mamaku aku pasti ngeluh. Tapi semua
itu, balik lagi ke tanggungjawab yang harus kita pertanggungjawabkan. Semangat!
Satu kata tapi energinya masyaallah, nyerap banget sampai ke nadi hingga ke
otak.
Dan satu lagi biasanya kendala pada
fase ini adalah “males”. Literally, ini nggak boleh. No and always be a no.
Satu kata kalo digabungin dengan kata lain impactnya besar. Sebutin aja, males
googling, males gerak alias mager, males cari referensi, males ke kampus, males
males dan males. Jangan.... khusus untuk aku sendiri sih. Jangan males.
Dah sekian cerita dari mahasiswa
yang sedang revisi ini. Semoga cepet kelar revisian biar bener-bener jadi
skripsian. I should finish my bachelor thesis, soon. Biar bisa ikutan sidang
skripsi, yang harus dimulai dengan sidang kompre.... i am coming.......
Comments
Post a Comment